Kamis, 22 Maret 2012

Laporan Praktikum Ekologi Tumbuhan



PEMETAAN SEDERHANA


KELOMPOK 4
RIFQI AZIZ

                                                                                                         
Program Studi Biologi
Fakultas Sains dan Teknologi
UIN Sunan Gunung Djati Bandung

                    
         


ABSTRAK

Peta adalah merupakan gambaran permukaan Bumi yang di perkecil. seperti kenampakan yang dilihat dari atas, disertai dengan simbol yang mewakili kenampakan di permukaan Bumi & tulisan-tulisan sebagai tanda pengenal. Kenampakan di permukaan Bumi yang bulat, pada sebuah peta digambarkan dengan bidang datar sehingga diperlukan proyeksi. Pembuatan peta dapat dilakukan dengan pengukuran. Pemetaan sederhana dilakukan dengan berbagai metode diantaranya, metode memencar, metode interseksi, metode beranting dan metode meloncat. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui cara pembuatan pemetaan sederhana. Tempat yang digunakan untuk praktikm kali ini adalah di lapangan sepak bola.

Kata Kunci : Peta, Pemetaan Sederhana, Memencar

 PENDAHULUAN
Di alam jarang sekali ditemukan kehidupan yang secara individu terisolasi, biasanya suatu kehidupan lebih suka mengelompok atau membentuk koloni. Kumpulan berbagai jenis organisme disebut komunitas biotik yang terdiri atas komunitas tumbuhan (vegetasi), komunitas hewan dan komunitas jasad renik. Ketiga macam komunitas itu berhubungan erat dan saling bergantung. Ilmu untuk menelaah komunitas (masyarakat) ini disebut sinekologi. Di dalam komunitas percampuran jenis-jenis tidak demikian saja terjadi, melainkan setiap spesies menempati ruang tertentu sebagai kelompok yang saling mengatur di antara mereka. Kelompok ini disebut populasi sehingga populasi merupakan kumpulan individu - individu dari satu macam spesies. (Heddy, 1994)
Karena ada hubungan yang khas antara lingkungan dan organisme, maka komunitas di suatu lingkungan bersifat spesifik. Dengan demikian pola vegetasi di permukaan bumi menunjukkan pola diskontinyu. Seringkali suatu komunitas bergabung atau tumpang tindih dengan komunitas lain. Karena tanggapan setiap spesies terhadap kondisi fisik, kimia maupun biotik di suatu habitat berlainan maka perubahan di suatu habitat cenderung mengakibatkan perubahan komposisi komunitas. Untuk itu perlu dilakukan suatu analisis yang dapat menentukan bagaimana penyebaran suatu jenis vegetasi agar dapat dipelajari dengan mudah (Sugianto, 1994).
Dalam mempelajari suatu komunitas tumbuhan sering diperlukan suatu gambaran dari suatu wilayah dimana pengamatan itu dilakukan, untuk tujuan tersebut diperlukan keterampilan dalam membuat peta.
Pemetaan adalah proses pengukuran, perhitungan dan penggambaran permukaan bumi (terminologi geodesi) dengan menggunakan cara dan atau metode tertentu sehingga didapatkan hasil berupa softcopy maupun hardcopy peta yang berbentuk vektor maupun raster (Anonim, 2010).
Berikut Prinsip Pemetaan dengan pengukuran secara sederhana seperti : kerja Lapangan, unsur yang Perlu di ukur dalam pembuatan peta sederhana adalah Pengukuran Jarak, Pengukuran Sudut Arah, Pengelolaan Data dan Penyajian Data. Selain dengan pengukuran, peta dapat di buat dengan menggunakan yang sudah ada. Berikut ini langkah Umum dalam membuat peta dari peta yang sudah ada ialah: menentukan daerah yang akan di petakan, memilih peta dasar yang tepat, membuat peta dasar baru, yaitu peta yang belum di beri simbol, mencari dan mengklasifikasikan data sesuai kebutuhan, membuat simbol-simbol yang mewakili data, menempatkan simbol pada peta dasar, melengkapi peta dengan komponen yang lain (Hartana, 2009).
Keterampilan dalam pemetaan ini sangat mambantu dalam mempelajari penyebaran vegetasi atau jenis tumbuhan tertentu di suatu area atau wilayah. Berbagai metode dalam pemetaan telah banyak dikembangkan, dan khusus untuk praktikum ini akan dipelajari metode-metode yang sangat sederhana.
Tujuan Praktikum yaitu untuk membantu peneliti atau praktikan menggambarkan daerah lokasi penelitian secara sederhana dan memetakan vegetasi yang penting bagi penelitian tersebut.

METODE
Praktikum ini dilakukan pada hari rabu, 15 Februari 2012. Bertempat lapangan Cileunyi, lahan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Bahan dan Alat 
Alat yang digunakan yaitu, kompas, meteran, tali, busur derajat, kertas grafik dan alat tulis.

Tahapan Praktikum
Pengamatan diawali dengan ditentukan titik konstan P dan Q didalam areal yang akan di petakan, kemudian ditentukan titik-titik batas luar areal terutama pada belokan atau tikungan, kemudian di ukur jarak dan azimut dari titik P dan Q ke titik- titik batas luar areal tersebut. Dan berdasarkan jarak dan azimut tersebut buat peta pada kertas grafik dengan menggunakan skala tertentu.
 
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pemetaan ini digunakan untuk mengetahui letak suatu jenis tumbuhan dan pola penyebarannya dalam suatu wilayah (komunitas). Untuk melakukan analisis vegetasi ada beberapa metode yang digunakan, selain ada metode yang digunakan untuk menganalisis kualitatif dari vegetasi dan ada pula anilisis kuantitatif terhadap vegetasi. Analisis kualitatif meliputi jumlah, kerapatan, luas penutupan dan lain sebagainya. Sedangkan analisisis yang bersifat kualitatif biasanya digunakan untuk mengetahui penyebaran jenis tumbuhan tertentu di dalam suatu komunitas. Untuk melakukan analisis kualitatif ini dapat digunakan cara pemetaan, yaitu pemetaan dengan mengukur jarak dan arah dan pemetaan dengan menggunakan 2 titik konstan.
Pemetaan dilakukan untuk menentukan letak suatu jenis tumbuhan di suatu area dan mempelajari pola penyebaran vegetasi atau tumbuhan di wilayah tersebut misalnya hutan tropis. Ada 3 macam pola penyebaran vegetasi dalam komunitas yaitu :
1.Pola penyebaran secara acak (random distribution) yaitu pola penyebaran dimana individu-individu menyebar pada beberapa tempat dan mengelompok pada tempat tertentu. Pada tumbuhan pola penyebaran acak ini dapat terjadi karena penghamburan benih oleh angin.
2.Pola penyebaran Seragam (uniform distribution) yaitu pola penyebaran dimana individu-individu terdapat pada tempat tempat tertentu dalam komunitasnya dengan jarak yang relatif sama. Penyebaran seperti ini dapat terjadi karena adanya persaingan yang keras antar individu (jenis tumbuhan) untuk memperoleh komponen pemenuh kebutuhan tumbuhan seperti cahaya, nutrisi, air dan sebagainya, serta adanya antagonisme positif yang mendorong pembagian ruang yang sama.
3.Pola penyebaran kelompok (clumped dispertion) yaitu pola penyebaran dimana individu-individu selalu ada dalam kelompok-kelompok dan sangat jarang terlihat terpisah atau sendiri. Pengelompokan ini terjadi karena pola reproduksi vegetatif, susunan benih lokal dan fenimena lain dimana benihbanih cenderung tersusun mengelompok.
Metode pemetaan dengan pengukuran jarak dan arah dilakukan dengan menentukan titik awal pada daerah yang akan dibuat petanya, sehingga susunan titik-titik tersebut menggambarkan bentuk penyebaran tumbuhan di daerah tersebut. Tiap titik merupakan letak dari suatu jenis tumbuhan, kemudian diukur jarak dari satu titik ke tititk yang berikutnya yang berdekatan hingga bertemu kembali ke titik awal.
Selain dilakukan pengukuran jarak juga dilakukan penentuan kedudukan atau arah antar titik-titik tersebut, sehingga kita dapat menentukan tumbuhan mana saja yang merupakan sampel dari analisis yang akan dilakukan yang biasanya berada di suatu hutan yang luas dan pengamatan dilakukan secara berkala. Dengan titik-titik tersebut kita dapat menemukan tumbuhan sama yang mana yang merupakan sampel analisis.
Dari hasil pengukuran pada saat pengamatan, diperoleh data seperti pada data pengamatan yang berupa peta titik-titik dengan kedudukan yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil pengamatan dari kelima titik yang diambil jarak masing- masing tumbuhan berbeda-beda, yaitu :
1.Titik P ke titik Q jaraknya 9,4 m dengan arah dari titik P ke titik Q sebesar 100° sedangkan dari titik B ke titik A arahnya sebesar 280°.
2.Arah pada titik Q ke titik A jaraknya 8,1 m dengan arah dari titik P ke titik C sebesar 118° sedangkan dari titik C ke titik Q sebesar 112°.
3.Arah pada titik P ke titik D jaraknya 25,08 m dengan arah dari titik P ke titik D sebesar 140° sedangkan dari titik Q ke titik D sebesar 149°
4.Arah pada titik P ke titik A jaraknya 7,6 m dengan arah dari titik P ke titik A sebesar 45° sedangkan dari titik Q ke titik A sebesar 345°.
Ini menunjukkan bahwa penyebaran jenis tumbuhan pada komunitas tersebut adalah tersebar secara acak (random distribution) karena jarak antar tumbuhan satu dengan yang lainnya adalah berbeda-beda dengan kedudukan yang saling berjauhan secara acak. Penyebaran secara acak ini dapat terjadi karena pola penyebaran benih tumbuhan yang mungkin dibantu oleh angin. Tetapi sebenarnya untuk menentukan pola penyebaran suatu jenis tumbuhan diperlukan luasan area sampel yang lebih luas misalnya hutan, karena dengan luas sampel yang kita gunakan tidak dapat kita simpulkan pola penyebaran yang sebenarnya. 
Metode pemetaan yang kedua yaitu dengan menggunakan dua titik konstan. Ini dilakukan dengan menentukan dua titik tertentu dimana dari kedua titik tersebut dapat terlihat seluruh daerah yang hendak dipetakan, selanjutnya dari kedua titik tersebut diambil titik-titik yang merupakan letak dari masing-masing tumbuhan yang ada pada wilayah tersebut. Kemudian dilakukan pengukuran jarak dan arah masing-masing titik terhadap titik konstan.

Table Hasil Pengamatan Pengukuran Pemetaan Sederhana :

Titik Batas Luar Areal
Kedudukan Terhadap Titik Konstan
P
Q
Azimut
Jarak (m)
Azimut
Jarak (m)
A
450
7,6
3450
8,1
B
970
10,7
200
6,8
C
1180
33,1
1120
23,8,
D
1400
25,08
1490
17,3
E
1800
30,26
2060
29
F
2210
16,09
2540
23
G
3220
10,4
3000
20,8

Ket : P – Q = 1000                       P – Q dari arah utara dengan jarak 9,4 m
         Q – P = 2800

Dari Hasil diatas dapat diketahui bahwa perbandingan jarak dan azimuth ada yang tidak ditemukannya titik potong, pada titik b, c dan d. karena perbedaan dari titik tersebut sangat jauh titik potong sehingga antara titik P dan Q tidak bersatu. Untuk skala yang digunakan menggunakan skla 1 : 200.
Dari data hasil pengamatan tentang pemetaan berdasarkan dua titik konstan, dimana dua titik konstan tersebut (P - Q) berjarak 9 meter diperoleh tiga arah tembak, yaitu arah 1, dan arah 2. Masing-masing arah memiliki jarak berbeda - beda terhadap dua titik konstan.
Jarak arah 1 terhadap titik A sebesar 7,6 meter, terhadap titik B sebesar 10,7 meter. Jarak arah 2 terhadap titik A sebesar 8,1 meter, terhadap titik B sebesar 6,8 meter. Arah 1 terhadap titik A sebesar 450°. Arah 2 terhadap titik A sebesar 345°. Arah 1 terhadap titik B sebesar 97°. Arah  2 terhadap titik B sebesar 20°, dab seterusnya.
Berdasarkan data pengamatan yang diperoleh dapat diketahui bahwa penyebaran tumbuhan adalah memencar karena jarak antar tumbuhan relative tidak sama. Dengan metode pemetaan dua titik konstan ini kita lebih mudah untuk melihat posisi dan pola penyebaran sampel-sampel tumbuhan dari arah tepi atau horisontal area. Dari data kedua cara pemetaan dapat diketahui bahwa penyebaran vegetasi pada lahan praktikum terjadi secara acak.
Penyebaran secara seragam ditunjukkan oleh jarak yang relative sama dari satu arah terhadap arah yang lain. Karena terjadi pembagian ruang yang sama akibat adanya suatu persaingan. Penyebaran vegetasi pada daerah tersebut (lahan praktikum) juga tidak dikatakan penyebaran kelompok karena jenis penyebarannya hanya terjadi akibat reproduksi vegetative dan individunya selalu ditemukan secara berkelompok, sedangkan pada hasil pengamatan vegetasi jenis tumbuhan ditemukan sendiri - sendiri secara terpisah.
Didalam praktikum ini banyak kendala - kendala yang ditemukan dalam melakukan percobaan, diantaranya : tidak kepastian dalam membidik titik yang akan ditembak, tempatnya yang sangat luas, dalam pemakaian kompas masih belum mengerti. Sehingga data yang di dapat sangat tidak akurat. Dalam hal ini perlu hati - hati dalam memakai suatu alat yang digunakan untuk melakukan percobaan sesuai dengan metode kerja yang tepat.
Tumbuhan yang ditemukan seperti, putri malu, rumput, pohon bambu. Tumbuhan tersebut banyak mendominasi ditempat tersebut. Banyak rumput yang membuat agak sulit dalam menentukan titik yang akan dijadikan patokan untuk membidik.

KESIMPULAN
Pemetaan dengan pengukuran jarak dan arah dilakukan dengan menentukan titik awal pada daerah yang akan dibuat petanya, sehingga susunan titik-titik tersebut menggambarkan bentuk penyebaran tumbuhan di daerah tersebut. Tiap titik merupakan letak dari suatu jenis tumbuhan, kemudian diukur jarak dari satu titik ke tititk yang berikutnya yang berdekatan hingga bertemu kembali ke titik awal.
Metode pemetaan berdasarkan dua titik konstan dilakukan dengan menentukan dua titik tertentu dimana dari kedua titik tersebut dapat terlihat seluruh daerah yang hendak dipetakan, selanjutnya dari kedua titik tersebut diambil titik-titik yang merupakan letak dari masing-masing pada arah tembak tersebut. Kemudian dilakukan pengukuran jarak dan arah masing-masing titik terhadap titik konstan.
Dari beberapa hasil arah tembak yang didapatkan, ada beberapa tidak menemukan titik temunya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim 1. 2010. Survei, Pemetaan dan Sistem Informasi Geografis. Dalam awiryawan@ditjenphka.go.id. (diakses, 30 November 2010).
Heddy, Suasono dan Metikurniati, 1994. Prinsip-Prinsip Dasar Ekologi. Malang : Raja Grafindo Persada.
Isdi Hartana Hadi. 2009. Peta. http://hadi.blogspot.com. [diakses tanggal 15 Februari 2012].
Sugianto, A. 1994. Ekologi Kwantitatif, Metode Analisis Populasi dan Komunitas. Surabaya: Usaha Nasional

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar